[SUKSES] Pendakian Gunung Binaiya 3027 MDPL

spanduk-event-01Project Baine Toraya- Gunung Binaiya merupakan Gunung Tertinggi di kepulauan Maluku dan masuk dalam salah satu seven summits of Indonesia (7 Gunung Tertinggi di masing-masing Pulau dan Kepulauan Nusantara). Gunung ini berada di Pulau Seram (Pulau Terbesar di Kepulauan Maluku) yang biasa disebut juga Nusa Ina (Pulau Ibu) dan Gunung Binaiya Sendiri sering Dijuluki Gunung Ibu. Gunung ini masuk dalam Wilayah Administrasi Kabupaten Maluku Tengah pada posisi geografis S 03°10’46.4” dan E 129°28’24.6”dengan Puncak Tertingginya Adalah Puncak Siale 3035 Mdpl. Namun oleh pihak Taman Nasional Manusela, selaku Badan yang Berwenang atas pengawasan Kawasan Taman Nasional Manusela batas pendakian hanya diijinkan sampai Puncak Binaiya 3027 mdpl karena Puncak sejati Siale ditetapkan sebagai kawasan zona inti perlindungan Flora dan Fauna yang harus steril. Selain dua puncak di atas ada beberapa puncak lainnya yang tergabung dalam jajaran Pegunungan Manusela, di antaranya Puncak Manukupa, Puncak Bintang dan Puncak Murkele.

Jalur pendakian menuju Puncak Binaiya  ada tiga, dua jalur terletak di Sisi Selatan Pulau Seram yaitu Jalur Mosso (paling cepat 11 hari pendakian Pulang Pergi) dan Jalur Yaputih Piliana dengan durasi 5-6 hari pendakian pulang pergi. Jalur lainnya adalah jalur dari sisi utara Seram di Desa Houlo dengan durasi pendakian sekitar 8 hari.

Perjalanan Menggapai Tanah Tertinggi Para Raja Dimulai dari Kota Daeng tanggal 25 Desember 2016, para personil mulai berkumpul di Basecamp Lapak Arcopodo Makassar untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama perjalanan dan selanjutnya pada dinihari tanggal 26 Desember kami di antar oleh teman Om Coco, Dillo dan Yola ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Di Bandara kami bersua dengan Bang Icool (nyong Ambon tulen), kebetulan transit dari Jogja menuju Ambon Juga, beliau adalah leader kami dalam Pendakian Gunung Binaiya Kali ini. Pukul 4.00 WITA pesawat kami take off dan Mendarat di Ambon Manise sekitar pukul 7.00 WIT.

15723985_1305796469483864_1775406347_n

Bandara Pattimura Ambon adalah meeting point pertama kali ini antara sebagian besar Personil Pendakian yaitu Bang Icool Real PAMKER Masohi (leader),Mba Anti dari Mapala Nebula Indonesia Jakarta,Ayyung KPA Garis Indonesia Palopo, Imran KPA Senja Makassar, Arip Savana Rimba Manado, Anchi OPAB Jelatang Nusantara Makassar, Sara Giriwana SMK Kehutanan Makassar.Adapun Meeting Point kedua adalah di Pelabuhan Tulehu yang kami tempuh sekitar 45 menit dari bandara dengan minibus carteran. Di Pel.Tulehu personil kami bertambah lagi setelah Bagus dari Sidoarjo dan Bang Ical Putera Daerah Masohi bergabung. Setelah semua lengkap kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Amahai di Pulau Seram, waktu tempuh dari Tulehu ke Amahai ± 2 jam dengan kapal cepat. Selang beberapa jam kapal merapat di Pelabuhan Amahai dan kami langsung melanjutkan perjalanan dengan Angkot menuju Sekretariat KPA Real Pamker Masohi. Di secretariat KPA REAL PAMKER Masohi kami selanjutnya belanja kelengkapan logistic lalu istirahat bercanda ria diiringi beberapa petikan gitar dari Ketua RPM yang suaranya juga asoy geboy merdunya, yah “jangan bilang Nyong Ambon kalau zeng pintar manyanyi” begitu kira-kira guyonan orang-orang.

Pagi tanggal 27 Desember kami terbangun disambut udara panas khas Masohi, agenda hari ini adalah Bang Icool dan Sara mengurus SIMAKSI pendakian di Kantor Balai Taman Nasional Manusela, Anchi, Imran dan Bang Ical ke pasar untuk belanja kelengkapan logistic yang masih kurang, teman-teman lainnya stay di secret untuk packing. Selepas siang kami segera packing dan sorenya berangkat ke Negeri Piliana (Desa terakhir yang merupakan start point Pendakian Gunung Binaiya) menggunakan Bus Pemda prajakarya yang kami charter. Pukul 17.00 bus melaju kencang melewati pesisir Pantai Selatan Pulau Ibu (julukan untuk P.Seram yang merupakan Pulau Terbesar di Kepulauan Maluku) selanjutnya melewati Tehoru (ibukota Kecamatan). Akses Jalur kendaraan menuju Piliana tergolong sudah lumayan, apalagi setelah dibangunnya Jembatan Tehoru, sebelum pembangunan jembatan ini setiap kendaraan yang hendak menuju Piliana harus melintasi sungai dengan arus deras, jadi ngeri juga membayangkannya. kami tiba di Piliana sekitar pukul 19.30 Malam dan langsung disambut oleh Bapak Raja Piliana beserta Kopiteh Hangat, tidak ketinggalan Kasbi dan Talas goreng. Di Piliana tim kami bertambah 2 orang lagi yaitu Ifa dan Dayat dari LESTARI Ambon.Negeri Piliana terletak pada ketinggian 425 mdpl, masih belum terlalu dingin di sini. Selanjutnya kami dipanggil untuk makan malam di dapur bapa Raja lalu beristirahat untuk pendakian esok harinya.

28/12/2016

Pagi yang indah kami dibangunkan oleh kokok ayam dan sinar mentari hangat di Balai Desa tempat kami tidur semalam. Selanjutnya kami bersiap packing dan bergegas ke rumah adat untuk Mengikuti Prosesi Upacara Adat. Setiap pendakian ke Gunung Binaiya selalu diawali dengan Upacara Adat terlebih dahulu, upacara adat ini sendiri dipimpin oleh Tetua Adat yang dipanggila Bapa Adat dengan tujuan untuk memohon perlindungan kepada Sang Pemilik Semesta agar bias sampai ke Puncak dan Kembali dengan Selamat, betapa religious kan guys..?

15978334_1320550741341770_737017233_n
Rumah Adat Piliana

Pukul 9.30 kami berpamitan ke Bapa Raja dan Bapa Adat lalu memulai pendakian, kami tidak lupa membawa seorang porter dari penduduk Piliana. Target camp pertama hari ini dalah Shelter Ayemoto.Jalur pendakian dimulai dengan menemouh jalan desa lalu memasuki kebun warga, sepanjang jalan kita akan menemui pohon cengkeh, sagu, pala dan kenari. Perjalanan belum terlalu menanjak namun kita harus beberapa kali melipir dan menyebrangi sungai kecil yang akan menguji ketahanan waterproof sepatu, mendekati Sungai Yahe perjalanan kembali Menurun lalu menanjak dan menurun lagi ke Sungai Yamitala (536 mdpl). Jarak dari Piliana ke Yamitala biasa ditempuh ± 2 jam, di Yamitala  juga terdapat Shelter namun lantainya mulai lapuk termakan usia. Di Lokasi sekitar Shelter Yamitala merupakan tempat yang cocok untuk beristirahat maupun mendirikan camp bagi pendaki yang kemalaman, lokasi ini dapat menamping 3-4 tenda kapasitas 4 orang. Di Yamitala kami beristirahat sambil makan siang lalu menlanjutkan perjalanan. Selanjutnya jalur dari Yamitala menuju Aimoto akan kebanyakan menanjak dengan kemiringan 70-80°, sebelum memasuki Aimoto kita akan terlebih dahulu melewati Dataran Goa Lukuamano, area ini merupakan puncak Punggungan dan terdapat cekungan batu besar menyerupai Goa yang bias digunakan berteduh, konon tempat ini cukup mistis karena dahulu ada seorang pemburu yang menghabisi nyawanya sendiri di sini. Pukul 16.00 kami tiba di Shelter Aimoto. Aimoto (1163 mdpl) atau Ayemoto sendiri dalam bahasa setempat berarti Kayu kering. Lokasi camp Aimoto merupakan lokasi camp yang sangat strategis dan dikelilingi oleh sungai kecil nan jernih. Area ini berada pada ketinggian ± 1000 mdpl dan dapat menampung 10-10 tenda kapasitas 4 orang. Malam itu kami lewati dengan acara masak memasak diselingi candaan hangat khas keluarga pendaki gunung.

29/12/2016

Gemericik air dan kicauan burung endemic Maluku kembali menyadarkan kami dari mimpi pagi itu, setelah sarapan dan packing kami tak lupa berkumpul untuk berdoa lalu melanjutkan perjalan sekitar pukul 09.00. Kami tidak lupa mengisi penuh persediaan air, karena selanjutnya tidak akan ditemui sungai sampai puncak. Setelah menanjak pada kemiringan 70-80° kami tiba di Dataran Ailunusalai (1344mdpl) lalu beristirahat sejenak, selanjutnya pendakian akan dilanjutkan menuju jalur yang semakin terjal dengan kemiringan 60 sampai 85°. Pukul 11.30 kami sampai di Puncak Teneuna (1708 mdpl), di sini kami istirahat untuk makan siang. Setelah makan siang kami melanjutkan menyisir jalur punggungan menuju Shelter High Camp (1897 mdpl). Shelter High Camp dapat ditempuh ± 2 jam dari Teneuna, selanjutnya dari High Camp jalu akan kembali menanjak terjal menuju Puncak Manukupa yang dapat ditempuh ± 1 jam. Dari Puncak Manukupa (2280 mdpl) jalur selanjutnya menurun curam menuju Shelter Isilali yang dapat ditempuh ± 45 menit. Sekitar Pukul 17.00 semua anggota tim tiba di Isilali. Lokasi Shelter Isilali berada pada vegetasi hutan lumut dan bisa menampung 4-6 Tenda(diluar bangunan Shelter). Dalam Bahasa Suku Alune setempat Isilali (2167 mdpl) berarti “Terang yang telah terlihat”. Malamnya kami harus memeras air lumut untuk minum dan memasak karena persediaan air kami sudah habis dan sebagian lainnya yang dibawa oleh porter lenyap (ternyata porter yang disarankan oleh Pak Sam Di Piliana tidak professional dan meninggalkan barang kliennya di Jalur). Sialnya ransel yang ditinggal ini berisi logistic serta sebagian besar peralatan penting salah seorang teman kami.Dari sinilah awal drama dimulai.

15970296_1320550854675092_473899368_n
Nasapeha

30/12/16

Pagi tanggal 30 pukul 9.00 tanpa sarapan dan dengan kondisi air yang terbatas kami melanjutkan perjalan menuju Puncak Bintang (2664 mdpl), Jalur menuju Puncak Bintang menanjak dan terbuka sesekali melewati medan berbatu dan turunan curam. Sekitar Pukul 12.00 kami tiba di Puncak Bintang, Puncak Bintang ditumbuhi beberapa pohon berukuran sedang dan jika cuaca cerah dari sini kita sudah dapat melihat Puncak Binaiya, sayangnya cuaca siang itu sedikit berkabut. Setelah bersitirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan menurun ke Camp Nasapeha (2577 mdpl) . Dari Puncak Bintang ke Nasapeha dapat ditempuh ± 45 menit. Area Nasapeha bisa menampung 4-6 tenda dan sumber air di sini berupa kubangan musiman. Arti Nasapeha adalah Kayu Tumbang. Setelah makan siang di Nasapeha kami bergegas mendirikan tenda dan briefing. Hasil brifing kami memutuskan untuk membagi 2 team, Sebagian Tim Akan Muncak Besoknya dan sebagian akan menunggu carrier teman kami tiba di Nasapeha. Yah beruntung dalam perjalanan tadi kami bertemu dengan Bapak Ige,porter tim lain yang akan turun, jadi kami dapat melaporkan semua kejadian kepada beliau. Malam itu kembali kami lalui dengan cerita-cerita lucu lalu beristiurahat dan siap untuk Summit Attack besok pagi.

31/12/16

Pagi buta jam 4.00 kami sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk Menuju Puncak. Jam 5.30 kami memulai penjalan menuju Puncak. Jalur menuju puncak didominasi tanjakan dan turunan karts berbatu yang diselingi oleh tumbuhan pakis khas Binaiya. Kurang lebih 1 jam kami tiba di wilayah Padang Kurcaci selanjutnya melewati 2 puncak punggungan lagi sebelum  tiba di Waifuku , Dari Nasapeha ke Waifuku dapat ditempuh sekitar 2 jam. Area Waifuku kadang juga digunakan untuk camp oleh para pendaki namun di sini sering terjadi badai dan sumber airnya hanya berupa kubangan yang lebih sering kering. Waifuku dalam bahasa setempat berarti genangan air. Dari Waifuku dibutuhkan waktu 10-15 menit menuju Puncak Mutiara Nusa Ina, Binaiya 3027 mdpl. Sekitar  Pukul 8.00 Kami tiba dan langsung sujud Syukur di Atap Tanah Maluku. Puncak Para Raja. Setelah berfoto-foto kurang lebih 1 jam kami turun kembali Ke Nasapeha, pukul 11.00 kami tiba di camp Nasapeha, selanjutnya packing dan berpisah dengan teman-teman yang masih tinggal, untuk selanjutknya kami turun menuju Shelter Highcamp untuk bermalam.

15995809_1320550941341750_808247514_n
PUNCAK
15970465_1320550968008414_794801709_n
Our Team
15996182_1320551048008406_1150649684_n
Jalur Turun Nasapeha ke Puncak Bintang
15996214_1320550824675095_1081792453_n
Jalur Manukupa-isilali

01/01/17

Matahari pagi 2017 kami sambut di Highcamp, selanjutnya kami bergerak turun menuju Aimoto untuk Makan Siang, tidak lupa kami menyimpan lagi sebagian logistic untuk tim yang dibelakang dan Langsung Menuju Piliana. Pukul 17.30 kami tiba kembali di Desa Piliana. Kami langsung disambut dengan pesta Tahun baru warga Desa.

02-04/01/2017

Hari-hari selanjutnya kami lalui Dalam keadaan cemas menunggu tim yang masih di atas. sambil menunggu anggota team kedua stiap harinya kami bercengkerama dengan masyarakat Piliana terutama Bapak Adat untuk menggali banyak informasi. Kebetulan saat itu ada Tim Dari salah satu Stasiun Televisi Swasta yang sedang syuting Program Jejak Petualang jadi kami dapat mengisi kekosongan sambil mengikuti dan menyaksikan kegiatan mereka. Kegiatan lainnya adalah mandi setiap sore di Kolam Mata Air jodoh Ninivala yang terletak ± 700m dari Rumah Penduduk Piliana. Tanggal 4/01/17 Siang pukul 11.00 akhirnya tim kedua tiba. Setelah semua  anggota tim lengkap, kami berpamitan kepada Bapa Raja, Bapa Adat dan Semua Penduduk Negeri Piliana untuk selanjutnya kembali menuju Masohi.

15978671_1320550918008419_1717967824_n
Bersama Bapa Raja (Merah) dan Bapa Adat Piliana

Itulah segumpal cerita kami dalam Menggapai Titik Tertinggi Negeri Para Raja, Puncak Mutiara Nusa Ina, Gunung Binaiya 3027 mdpl. Terima Kasih Kepada;

  • Tuhan Yang Maha Esa atas segala perlindunganNya
  • Taman Nasional Manusela dan Gunung Binaiya atas segala keindahannya
  • Balai Taman Nasional Manusela
  • Bapa Raja, Bapa Adat, Pemerintah dan Semua Masyarakat Negeri Piliana
  • Kepolisian Sektor Tehoru Maluku Tengah
  • Bang Ical dan Bang Icool sebagai Leader
  • Keluarga Baru KPA Real Pamker Masohi
  • Keluarga Baru KPA LESTARI Ambon
  • Om Ampi (supir bus handal dari Masohi)
  • Keluarga Baru KPA KANAL Ambon dan Team MDPL Maluku
  • Semua Tim Pendakian yang sudah disebutkan di awal
  • Akasaka Outdoor Sandals, Arcopodo Adventure Store Makassar, Anak Kaki Gunung sebagai sponsor
  • Warta Ekspress, Baine Toraya Project dan Bosowa Radio 88.5 FM Makasssar sebagai media Partnert
  • Serta Semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

Sampai berjumpa di Episode Perjalanan Selanjutnya. Salam Maluku Satu Darah untuk Indonesia Bersatu, NKRI Harga Mati

(Penulis:Anchi Jelatang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s