Aku Diproses Tuhan Lewat Cinta

Aku Diproses Tuhan Lewat Cinta

Penulis: Eunike Pakiding

CINTA, Kata yang mengundang Saya untuk berdiri sejenak, membuka mata  kemudian melangkahkan kaki yang sempat bertukar peran dengan Hati. Berat menceritakan, berat pula untuk menangis, Siapa saya? Yang hendak mengamuk pada Kehidupan. Protesku tiap hari terasa tidak adil, aku marah pada Tuhan yang tidak mengizinkan aku untuk merasakan apa sebenarnya itu Cinta Sejati.

Aku yang dulu polos tentang Cinta, tidak paham tentang Cinta, tidak ingin mengenal Cinta, sekarang dalam penjajahan rasa karena mencintai Manusia yang Salah. Tiga Tahun mengenal Bends sosok yang selalu ku banggakan di depan teman-temanku, kini berubah tiga ratus enam puluh derajat dari awal perkenalanku dengannya. Pertama kali Tuhan pertemukan kami dalam sebuah kegiatan kampus, selanjutnya Tuhan Proses kami mengenal satu sama lain yang kurasa Tuhan sudah kasih Pasangan yang sepadan dengan aku tapi ternyata Jalan harus berputar mencari arahnya sendiri. Begitu sakit menulis ratusan kisah manis dan ribuan harapan yang rusak seketika karena titik jenuh yang jadi alasan untuk pergi meninggalkan satu sama lain.

“Tuhan, inikah balasan Senja ketika aku setia menunggu dia datang? Dia balas kesetiaanku dengan Hujan?”, jeritanku tak tertahankan lagi sambil terus-terusan aku menangis hingga hari berganti.

Aku bangun pagi ini, suasana berbeda dengan hari-hari yang lain. Ucapan selamat pagi lewat pesan yang selalu ku terima saat aku bangun, kini hanya sisa broadcast pin BBM yang ada di Handphoneku. Kali ini, aku betul-betul kehilangan, betul-betul merasakan sakit karena Cinta. Nasehat Mama saat aku mulai mengenal Bends ternyata benar “Berani untuk mencintai, berani juga untuk sakit” pernyataan yang kuanggap tidak penting kini kembali jadi pelajaran untuk aku.

Mataku melihat kotak kado diatas lemari, kembali mengingatkan kejadian satu tahun yang lalu. Tepat dihari valentine kado itu ku terima dari Bends. Hari itu yang kata orang adalah hari kasih sayang jadi hari dimana kami juga saling menunjukkan kasih sayang. Aku ingat satu kata dari Bends “Aku bersyukur, Tuhan kasih Kamu untuk Aku” saat itu aku betul-betul jatuh cinta, aku juga berdoa pada Tuhan “Tuhan ini yang aku mau, Tuhan dewasakan Cinta kami”. Mengingat masa itu terasa bahwa dunia hanya milik kami berdua, aku juga merasa Cintaku membawa perubahan baru dalam hidupku. Ke kampus aku semangat, hari-hariku selalu ceria, buktinya selama pacaran IPK aku selalu naik itu karena Cintaku. Tidak ada juga larangan dari Mama hanya saja Mama mengingatkan harus pintar jaga diri. Keadaan lingkunganku yang mendukung aku, menambah keyakinanku bahwa pacaran dengan Bends adalah Hal yang Tepat.

Mengingat semua kenangan manis dengan Bends betul-betul menguras energiku. Seperti orang sakit aku duduk dalam kamar, menangisi satu manusia yang pergi mencari cinta lain karena bosan dengan hubungan yang tetap bertahan. Aku bingung Tuhan, bukannya setiap manusia normal berharap cintanya bertahan? Sementara Bends? Dengan alasan Bosan dia pergi begitu saja? Sesederhana itukah perasaanmu untuk aku? Setelah aku berjuang mati-matian untuk Cinta ternyata hasil akhirnya adalah pengkhianatan

“Sharon… Sharon… Sayang, diluar ada Kinawa, katanya kamu ada jadwal kuliah hari ini”, Kata Mama sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku tidak mau mama Tahu kalau aku Putus sama Bends, bergegas aku cuci mukaku agar raut sedih tidak terlihat.

“Iya Ma… Tunggu”, Jawabku

Dengan tersenyum aku keluar dari kamarku menemui Kinawa.

“Hari ini ada jadwal kuliah? Bukannya dipindahkan ke hari Senin?, Tanyaku kepada Kinawa.

“Hust.. aku punya sesuatu yang mau aku omongin sama kamu tapi tidak di sini, kamu mandi dulu, terus kita ke kampus”, Kata Kinawa terburu-buru.

Aku menuruti kata Kinawa karena terdengar ada sesuatu yang penting untuk diceritakan. Dan sesudah dia menceritakan apa yang ingin dia ceritakan, aku berniat menceritakan soal Bends. Aku pun bersiap-siap, tidak sampai 20 menit aku keluar menemui Kinawa.

“Ayo… kamu bawa motor kan Kinawa?

“Iya… kamu pamit dulu sana” Kata Kinawa.

“Maaaaaa… Aku ke Kampus ya, nanti sarapannya di kampus saja.. dadada Mama sayang”, Teriakku pada Mama.

Aku dan Kinawa Akhirnya sampai dikampus rumah kedua tempat aku menghabiskan Waktu untuk mengejar Masa Depanku. Ada begitu banyak kenangan tentang Bends di kampus ini. Taman tempat kami tertawa bersama sambil menunggu jadwal kuliah selanjutnya, kemudian kantin tempat kami nongkrong ketika tidak ada kegiatan. Bagaimana aku bisa melupakan Bends jika tiap hari aku harus berada di Kampus?

“Hei.. Kamu kenapa nangis Sharon?”,Kata Kinawa heran

“Akh tidak, aku hanya kelaparan saja”, jawabku kepada Kinawa

Kinawa adalah Sahabat yang paling aku percaya, hampir semua permasalahanku ku ceritakan pada dia. Bahkan kisah-kisah bahagiaku dengan Bends Kinawa pasti tahu. Dan sekarang aku tidak tahu harus menceritakan tentang Bends atau tidak.

“Sharon.. aku bukan orang asing lagi di kehidupanmu, kalau ada masalah kamu selalu cerita. Kamu kenapa Sharon? Ayo cerita”, Desak Kinawa Penuh Penasaran

Sambil berjalan menuju Taman tempat kami biasa nongkrong, Kinawa terus mendesakku. Aku pun tidak tahan dengan air mataku. Aku menangis karena begitu sakitnya kehilangan orang yang kita cintai.

“Sharon. STOP.. Kamu kenapa? Sharon…” Kata Kinawa yang tidak tahan melihatku menangis.

Karena tidak tahan dengan pergumulan yang aku hadapi, aku akhirnya menceritakan tentang Bends kepada Kinawa. Kali ini aku malu pada Kinawa, sosok yang selalu aku banggakan ketika bercerita di depannya, kini harus menceritakan tentang keburukan sosok yang aku banggakan.

“Bends kok gitu sih, Jahat.. Ngak punya hati..”, Kata Kinawa dengan Kecewa

“Aku juga tidak Paham dengan alasan Jenuh dia pergi meninggalkan Aku, apa aku banyak menuntut? Kalau aku salah tolong kasih tahu.. itu yang selalu aku kasih tahu.. Bends, kalau ada yang ngak kamu suka dari aku, tolong tegur aku. Belakangan ini memang dia agak menghindar tapi ku rasa mungkin dia lagi sibuk, makanya aku juga ngak ngabarin dia tiap waktu, paling pagi atau malam aku BBM dia, dan itu cuman di read doank… Pacar mana coba yang ngak kecewa?” aku mengeluarkan semua unek-unekku pada Kinawa sambil menangis.

“Kalau ngak salah, tiga hari yang lalu dia upload foto cewek di instagram.. kamu lihat kan?, Tanya Kinawa

“Aku di blokir dari semua akun media sosialnya”, kataku sambil terseduh-seduh

“Serius? Aku kira kamu lihat… makanya tadi aku ke rumahmu. itu yang tadi mau aku Tanya sama kamu, caption di Foto yang Bends Upload maksudx apa? Soalnya dia nulis “My Love Has Come” terus di tambah emoticon love-love gitu… saat itu aku pikir mungkin itu adiknya yang kuliah di luar negeri. Karena sebelumnya ada foto Bends di Bandara sementara menunggu terus caption fotonya WAITING.. dan tadi malam, aku stalking instagram Bends dan Foto-Foto kamu kok ngak ada satu pun.. sudah di delete?”, kata Kinawa menjelaskan

Aku tidak tahan mendengar cerita Kinawa, dugaanku ternyata benar bahwa ada orang ketiga dibalik sikap Bends yang seperti itu ke aku.

“Sharon.. kamu lihat aku.. Sudah Stop menangis.. dengarkan aku.. Bends itu Bukan orang yang pantas kamu tangisi, tidak ada untungnya lagi.. Hei… dengarkan aku Sharon… ketika kamu menangis apa Bends akan kembali? Tidak.. diluar sana dia sementara bersenang-senang dengan pacar barunya. Sementara kamu? Duduk menangisi Laki-laki yang sudah menyia-nyiakan kepercayaanmu. Memang sulit untuk menerima kenyataan pahit tiga tahun bersama dan akhirnya dia memilih untuk pergi. Kamu Wanita kuat kan? Dimana keceriaan kamu? Dimana semangat kamu? Sharon yang dulu mana?” Kata Kinawa menasehati Aku

“Semua butuh proses Sharon, apalagi ketika harus berproses melupakan.. memang sekarang sulit tapi ketika kamu komitmen sama diri kamu bahwa hidup saya, masa depan saya, terlebih cinta saya bukan hanya tentang Bends. Coba kamu berdiri, hapus air matamu. Katakan pada dirimu.. saya tidak mau berlarut-larut dalam perkara cinta yang akan merusak semangat saya. Cinta diciptakan untuk kebahagiaan, dan untuk mencapai finish harus ada proses. Yakinkan dirimu kalau sekarang kamu sementara dalam proses untuk satu cinta yang lebih berkualitas.. Bends mungkin salah satu Cinta yang Tuhan saring karena dia bukan yang tepat untuk kamu. Dan sekarang kamu harus buktikan pada Bends kalau kamu itu kuat, berikan yang terbaik untuk semua yang kamu kerjakan”, Kata Kinawa.

“Kinawa…. Your My Best Friend”, Aku memeluk kinawa sambil tersenyum

Aku bersyukur Tuhan tempatkan sahabat seperti Kinawa dalam hidupku, setidaknya hari ini lewat Kinawa Tuhan kasih pemahaman bahwa ketika kita jatuh, proses yang paling tepat adalah bangkit kembali. Cinta mungkin selalu dalam posisi yang salah, tapi kali ini saya betul-betul merasakan Proses Cinta dalam hidup adalah Pendewasaan. Ya.. untuk pertama kalinya merasakan sakit, penderitaan karena terlalu polos mencintai. Saya tidak mau berlarut-larut, saya masih punya hal penting yang harus saya kerjakan.

“Kinawa… Lihat Saya.. Saya cantik kan? Saya manis kan? Masa iya Orang cantik dan manis dibodohi sama Cinta? Hahahaha.. kan ngak asyik jadinya.. Ayo kita ke kantin aku lapar dari kemarin belum makan gara-gara cinta.. hahahaha”, Kataku pada kinawa

“Hahahaha.. gitu donk, Move On Sharon… Hahahaha, “Kata Kinawa meledek

Sejak hari ini saya komitmen pada diri saya untuk betul-betul melupakan Bends, mengingat nasehat Kinawa dan nasehat Mama itu cukup membuatku kuat. Awalnya memang sangat sulit tapi hari berganti hari dengan semua rutinitas yang saya kerjakan, Bends bukan perkara besar lagi dalam hidupku. Walaupun beberapa kali saya sempat bertemu dengan Bends di Kampus itu bukan jadi alasan lagi untuk masuk dalam cerita cinta dimasa lalu. Sekarang saya belajar bahwa setiap perempuan punya impian tentang cinta. Mengenal, berproses dan hasil akhir. Aku mengenalmu, kemudian suka padamu. Aku berproses untuk lebih tahu tentangmu dan hasil akhirnya adalah sad ending atau happy ending, yang jelas saya sudah berusaha menjadikan diriku perempuan yang layak dicintai ,yang tetap setia pada satu pria yaitu pria-ku. Terserah dia mau pergi, atau yang beralih ke yang lain itu hak dia. Yang jelas saya tetap pada komitmen awal Mencintaimu, menyayangimu, berjuang. Kurasa itu cukup sebagai tugasku menjadi pasanganmu. Dan ternyata itu belum cukup buatmu. Silahkan pergi, cari cinta yang lebih berkualitas dariku dan Terima kasih sudah pernah singgah dalam hidupku. Saya pelan-pelan melupakan semua cerita matahari dan hujan yang pernah kami tulis bersama.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s