Generasi Orang Kaya Baru Di Toraja

royal-blood-uang-darah-dan-kematian-di-toraja-bagian-1-1478479826
Sumber Gambar: Vice Indonesia

Munculnya istilah Orang Kaya Baru atau OKB belakangan ini, mengundang  kontroversi di kalangan Masyarakat Toraja. Bermula dari Video Dokumenter “ROYAL BLOOD” oleh VICE INDONESIA mengusung tagline Uang, Darah dan Kematian di Toraja disajikan dalam 3 bagian, berhasil tampil kritis dan cukup membahas topik yang menegangkan untuk dikonsumsi “Generasi Orang Kaya Baru” di Toraja.

Perlu diketahui,  Vice Indonesia adalah Brand Media asal Kanada yang terkenal menyajikan konten-konten lokal dengan gaya jurnalisme yang mampu bercerita secara mendalam dan berani, membuka fakta tentang cerita tersembunyi dari keberagaman.

Media Barat ini Hadir pertama kali di Asia Tenggara, Tepatnya pada 1 November 2016 dan langsung memilih Indonesia menjadi tempat singgahnya yang pertama.  Dibawah pimpinan direktur pelaksana Mo Morris, beliau mengatakan “Vice akan menghadirkan pandangan segar yang mempertanyakan kearifan konvensional, sehingga sajian konten lokal akan lebih mendalam, menegaskan ciri dan gaya khas tulisan-tulisan Vice yang kerap hilang dari pusaran media yang hiruk-pikuk”.

Itu bisa anda buktikan sendiri lewat Video Dokumenter “Royal Blood” Uang, Darah dan Kematian di Toraja. Mengundang kontroversi bukan?  Bahkan Media ini berani menuliskan Statement yang berbunyi: “VICE Indonesia berkunjung ke dataran tinggi Sulawesi Selatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri dampak datangnya generasi orang kaya baru di Toraja terhadap tradisi kuno pemakaman mereka yang penuh dengan darah” .

Dilanjutkan dia bercerita dengan kritis: “Di dataran tinggi provinsi Sulawesi Selatan, upacara pemakaman adalah peristiwa besar. Tradisi ini sudah berlangsung selama beberapa dekade, namun datangnya generasi “orang kaya baru” (OKB) di Toraja telah mengancam fondasi dari upacara pemakaman mereka yang luhur sekaligus penuh darah ini. Koresponden  Aria Danaparamita menyambangi Toraja Utara untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana para OKB menggelar upacara pemakaman dengan jor-joran, bahkan melampui apa dulu dilakukan oleh kaum darah biru”

Mencerna lebih dalam, topik seperti ini terlalu yang berat untuk kita bahas dilingkungan kita sendiri, ini erat kaitannya dengan siapa saya? apa strata sosial saya? sehingga mampu berbicara menanggapi “Generasi Orang Kaya Baru di Toraja” ? Frasa “orang kaya baru” merupakan ejekan dan memiliki konotasi negatif. sebagaimana Sistem Kasta itu masih menjadi hantu yang menakutkan, tidak jarang ada yang lari bersembunyi mengucilkan diri untuk hidup bermasyarakat dengan kaum di atasnya.

Berbeda dengan Tim dari VICE INDONESIA dengan berani datang menyambangi daerah kita seolah memberi alarm bahwa Toraja darurat “Orang Kaya Baru” betulkan itu? Tongan raka? Dari sini saya melempar pertanyaan dari akun media sosial saya untuk publik:

“Generasi ORANG KAYA BARU di Toraja yang berpesta Besar-besaran melebihi Kaum Darah Biru, dianggap telah merusak nilai luhur Rambu Solo’ yang Sesungguhnya. Betulkah?
Lalu bagaimana kita memahami bahwa Roda Kehidupan Berputar, darah di tubuh kita bukan jaminan untuk mendapatkan “Materi Sebanyak-banyaknya/Kekayaan” melainkan kerja keras. Bukankah, generasi ini menunjang agar adat kita tetap bertahan dan berjalan? Atau jika anda menentang, apa alasan anda?”

Jawabannya pun beragam ada pro dan ada kontra. Saya coba menyimpulkan:

Dari pihak yang tidak mempermasalahkan  kelakuan “Generasi Orang Kaya Baru”  mengatakan, Fenomena seperti ini adalah perkembangan zaman, apapun itu semua ada masanya seperti adat yang berjalan seiring perkembangan zaman. Sama halnya dulu, belum ada orang yang mengenal agama, bahkan mata pencarian masyarakat masih susah, makanya ada istilah “Diotok ba’tu dipatok tu anggenna ladipogau’ “  Sama halnya zaman sekarang mata pencarian atau “Dakaran Kande” orang pintar/orang sukses sudah ada, maka “na patassu’ duka tu kadenanna”, dia mengeluarkan juga apa yang di miliki “na pogau’ tu misa’ sara’ ba’tu aluk” ritual rambu solo’ sesuai kemampuannya.

Dari sisi kontra yang sangat menentang kelakuan “Generasi Orang Kaya Baru di Toraja”  turut berkomentar bahwa, zaman sekarang ritual rambu solo’ sudah jauh melebihi ukuran yang semestinya. Istilah kerennya “habis-habisan” sehingga mengancam nilai luhur Rambu Solo’ yang sesungguhnya. bukan lagi fokus melaksanakan ritual sesuai tatanannya, tapi ini lebih kepada “Posisinya nanti di masyarakat” sehingga dari sini muncul istilah “Morai di sanga” sampai ada yang berkomentar “tilabe-labe” , siapapun dia kalau mampu dan turut melestarikan budaya perlu diacungi jempol, asal dia berpatokan pada tatanan adat misalnya 24 ekor kerbau. Kalau sudah melebihi dari itu apalagi kalau sudah sampai ratusan, bukan lagi adat tapi pembantaian binatang.

Bagaimana sebenarnya pemotongan hewan dalam Ritual Rambu Solo’ di Toraja?

Pertama, Dalam kebudayaan masyarakat Toraja dikenal 4 macam tingkat atau strata sosial, diantaranya:

  • Tana’ Bulaan atau golongan bangsawan
  • Tana’ Bassi atau golongan bangsawan menengah
  • Tana’ Karurung atau rakyat biasa/rakyat merdeka
  • Tana’ Kua-kua atau golongan hamba.

Saya tidak tahu apa ini masih berlaku, atau masihkah masyarakat menyebut-nyebut jenis darah ketika berinteraksi, tapi dulu sistem kasta ini sangat kental diberlakukan. Berdasarkan strata sosial orang atau keluarga yang meninggal, ritual rambu solo’ dibagi menjadi 4 jenis:

  1. Ritual Disilli’, Ritual pemakaman untuk orang Toraja yang memiliki strata sosial paling rendah, atau pada anak-anak yang belum mempunyai gigi. Dalam ritual ini tidak ada pemotongan hewan. Yang dilakukan hanya “dedekan” ritual pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi dan “pasilamun tallo manuk” Ritual pemakaman bersama telur ayam.
  2. Ritual Dipasangbongi, Ritual pemakaman orang Toraja yang berasal dari Tana’ Karurung (Rakyat Biasa/Merdeka) yang hanya berlangsung selama satu malam. Untuk pemotongan hewannya, ada: Bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), Tedong tungga (persembahan satu ekor babi), Di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi) Ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).
  3. Ritual Di batang atau di doya tedong, Ritual Pemakaman Masyarakat Toraja untuk mereka yang berasal dari Starata Sosial tana’ basi (bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Ritual ini biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Setiap hari satu ekor kerbau ditambatkan pada sebuah patok dan dijaga oleh orang sepanjang malam tanpa tidur. Selama ritual ini berlangsung, setiap hari ada pemotongan satu ekor kerbau. Pada akhir ritual, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  4. Ritual Rapasan, Ritual Pemakaman khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar sebanyak 2 kali. dan terbagi lagi menjadi beberapa jenis:
  • Ritual Rapasan Diongan atau Didandan Tana’ (artinya di bawah, atau menurut syarat minimal). Korban kerbau sekurang-kurangnya 9, dan babi sebanyak yang dibutuhkan/sebanyak-banyaknya. Oleh karena ritual rapasan dilaksanakan sebanyak dua kali, maka ritual pertama dilaksanakan selama tiga hari di halaman Tongkonan, dan ritual kedua dilaksanakan di Rante.
  • Ritual Rapasan Sundun atau Doan (ritual sempurna/atas). Ritual ini membutuhkan korban kerbau sekurang-kurangnya 24, dengan jumlah babi yang tak terbatas untuk dua kali. Ritual ini diperuntukkan bagi bangsawan tinggi yang kaya, atau para pemangku adat. Ritualnya berlangsung seperti Ritual Rapasan Diongan
  • Ritual Rapasan Sapu Randanan (secara literal diartikan serata dengan tepi sungai). Ritual Rapasan Sundun berlangsung dengan korban kerbau yang melimpah (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau, bahkan ada tempat yang Dima’dikai yang menyebutkan di atas 100 ekor kerbau)

Nah, Dari rangkuman singkat ritual Rambu Solo’, dijadikan patokan masyarakat Toraja dahulu untuk melaksanakan ritual Rambu Solo’ bagi sanak keluarga yang meninggal. Sehingga dengan munculnya “GENERASI ORANG KAYA BARU” di Toraja, maka secara tidak langsung ada sebagian pihak mengajak kita untuk melihat kembali tatanan Ritual Rambu Solo’ yang sesungguhnya sesuai status sosialmu-lah?

Atau  Maaf, ada yang ingin protes bahwa kamu adalah kaunan, tidak pantas kamu pulang melaksanakan Aluk, Sara’ atau Ritual besar-besaran sementara kamu bukan dari kaum bangsawan. Saya juga melihat fenomena lain yang konteksnya sama, soal siapa yang pantas duduk di Lumbung saat mengikuti sebuah Ritual di Toraja baik rambu Tuka’ maupun Rambu Solo’ yang dulu aturannya bahwa Kelompok Hamba/Kaunan tidak boleh duduk dilumbung. Terus sekarang, bagaimana jika ada hadir dalam Ritual Anggota DPR, Camat, Lurah yang berasal dari kelompok tersebut?

Saudara, Tahukah anda bahwa Roda Kehidupan itu terus berputar, kita mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa di masa yang akan datang nak, kamu harus bisa sukses “Mendadi Tau” makanya kamu harus bekerja keras, belajar sebaik mungkin agar bisa mengubah nasib kita. Tidak mungkin dari Kelompok Kaunan mengeluarkan statement bahwa saya memegang teguh Strata Sosial Hamba yang saya punya, saya mau miskin terus dan tetap menjadi hamba selama-lamanya? Manusia Normal ingin hidupnya sejahtera, keluarganya dihormati, terlebih kehidupannya berkecukupan bahkan lebih. Maka dari itu, kelompak ini terus bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang sebagai bukti bahwa dia bisa mengubah nasibnya dari miskin, atau biasa-biasa saja menjadi “Orang Yang Kaya”

Tidak tepat jika kita mau meributi kekayaan orang, apalagi meributi tentang strata sosialnya dulu dan sekarang. Biarlah itu menjadi urusannya, ingat,  darah di tubuh kita bukan jaminan untuk mendapatkan “Materi Sebanyak-banyaknya/Kekayaan” melainkan kerja keras. Bagaimana kita bisa melaksanakan Ritual kalau tidak pendanaan?

Mindset atau pola pikir manusia dari hari kehari terus berubah tergantung di lingkungan mana dia bergaul, maka dari itu karena mereka tahu mereka tidak punya apa-apa sehingga mereka harus terus berusaha. Jika saat ini mereka sukses, tidak alasan untuk melarang-larang mereka melakukan “Sara’ “ toh, uang yang mereka pakai hasil keringatnya sendiri bukan? Uang, uang mereka kok? Mereka pun juga orang Toraja, lahir dari darah orang Toraja. Tapi harus tahu porsinya dan bukankah lebih baik kita tahu Who am I? Siapa saya?  daripada nanti menerima Who are you? Siapa Kamu?

Dari Orang Kecil menjadi Orang Besar, melewati Proses yang panjang. Proses itulah memampukan kita memilih. Jika Orang Tua atau Sanak Keluarga yang meninggal, Kitalah Anak-anaknya, saudaranya yang masih hidup ini yang menentukan. Mau diapakan? Bagaimana adat, agama dll harus dilaksanakan hingga pengantaran terakhir almarhum ini beristirahat dengan tenang.

Terakhir 2 poin dari saya:

  • Jangan sampai kita memakai adat sebagai alasan untuk melindungi rasa iri hati kita kepada sesama, dan
  • Jangan sampai kita memakai adat sebagai alasan untuk menunjukkan kesombongan dan keakuan kita.

Tetap jadi diri sendiri, karena ADAT itu sama dengan tubuh kita, harus dijaga dan dihargai. Sekarang tinggal bagaimana orang yang ada dalam lingkaran Adat itu “SIPAKILALA” karena Toraja itu kerinduan banyak orang dari kejauhan. Salama’

Baca Juga:

 

 

 

Advertisements

15 Comments Add yours

  1. TampangMalino says:

    Pelaksanaan Ritual Rambu solo’ di kalangan suku Toraja, memang sangat rumit jika dipandang secara pengertian umum dari luar,..dan memang hanya orang2 Toraja yg bisa memahami sendiri makna dan tujuan tertentu ritual tersebut dilaksanakan. Jika dipandang dari jumlah pengorbanan pd setiap rambu solo sesuai dgn jumlah kerbau dan tingkatan acaranya, sesungguhnya tdk mengubah tatanan adat,budaya, maupun tingkat sosial (kedudukan masing2/ tdk merubah kasta di dalam masyarakat). seperti jika memang keturunan kaunan lalu bisa memberikan pengorbanan potongan hewan yg banayk, kendati itu memadai pengorbana kasta tertinggi ataupun lebih, maka itu bukan berarti kasta kaunan sdh bersih atau hilang. namun hanya kebebasan utk diberikan melakukan hajat kepada leluhur mereka dgn pelaksanaan tertentu.

    Like

  2. TampangMalino says:

    Karena sesuai paham Orang Toraja,.. memberikan pengorbanan kepada Para Leluhur melalui ritual rambu solo’ adalah merupakan suatu ibadah yg sangat berarti dan sekaligus sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mereka.,

    Like

  3. Sirande Tiku Pasang Daeng Manrapi says:

    Artikel ini lumayan berani dalam mengungkapkan apa sih yang sebenarnya terjadi dan apa tujuannya di Toraya dengan Upacara Rambu Solo’nya dengan biaya yang cukup besar, Lalu itu Kerbau di sembelih dalam jumlah banyak apa tujuan dan maknanya, bukan segala sesuatu yang kita buat itu ada tujuan, maksud dan artinya.
    Mungkin hal ini lah yang terjadi di Toraya banyak yang mantunu tedong (menyembelih kerbau) namun kurang di sertai penjelasan oleh orang2 tua kita makanya di generasi kita sekarang yang kritis ini bertanya.

    UNTUK APA DI UPACARA ADATKAN ORANG YANG SUDAH MENINGGAL SEDEMIKIAN MERIAHNYA….?
    UNTUK APA MEMOTONG KERBAU DALAM JUMLAH YANG BANYAK YANG KATANYA DI PERSEMBAHKAN UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL…?
    Semua pertanyaan anak2 di jaman sekarang yang cukup kritis memang harus terjawab oleh orang2 tua kita, agar tak muncul lagi istilah OKB.

    Like

  4. Eryck bulan says:

    Jika berkenan dtg lah ke sumba NTT
    Budaya yg serupa nmun tak dgn teroja
    Unik
    Menggelitik

    Like

  5. Bale Karappe says:

    yang lebih parah lagi OKB kalau sdh ma’kapura2 (pelaksanaan Rambu Solo’ atau Rambu tuka’ sudah merasa diatas tidak ingat lagi bahwa mereka (keturunannya) awalnya strata paling bawah alias kaunan. PRIHATIN SAYA…..
    .

    Like

  6. PIABAINE says:

    …..“habis-habisan” mengancam nilai luhur Rambu Solo’ yang sesungguhnya. bukan lagi fokus melaksanakan ritual sesuai tatanannya, tapi ini lebih kepada “Posisinya nanti di masyarakat” sehingga dari sini muncul istilah “Morai di sanga” sampai ada yang berkomentar “tilabe-labe” , siapapun dia kalau mampu dan turut melestarikan budaya perlu diacungi jempol, asal dia berpatokan pada tatanan adat misalnya 24 ekor kerbau. Kalau sudah melebihi dari itu apalagi kalau sudah sampai ratusan, bukan lagi adat tapi pembantaian binatang.”……

    SETUJU DEH SAMA ARTIKELNYA EUNIKE
    #SAVETEDONG

    Like

  7. Jenny says:

    Memahami adat orang toraja memang susah….bahkan saya sebagai orang toraja pun bingung untuk apa pengorbanan sebanyak itu, saya bangga menjadi orang toraja, tapi terlebih bangga karena saya memilih jalan yg berbeda….tidak ikut ikutan memotong kerbau lagi….walau berat tapi saya lebih damai dalam menjalankan ibadah sesuai dengan iman kepercayaan saya tanpa hatus terikat adat mantunu.

    Like

    1. Pong Penyok says:

      patalo lari komi kelah …
      nenekmi sola tomatuammi pemammi’ duku’na to buda … giliran kmu la na appa giliran mi male letta kondong … hmmm “itulah yg membuat sy mangnga” …

      Like

  8. daud borce says:

    Menurut saya, tatanan Adat yang berlaku ini perlu menyesuaikan diri dengan Zaman dan Agama karena adat adalah aturan tentang pola hidup dan keyakinan. Ketimpangan-ketimpangan ini menurut saya dapat ditengahi oleh ajaran Agama yang baik. Saya Katolik, dan saya telah melihat benang merah yang sangat jelas agar Adat Toraja tetap dapat terlaksana dalam kewajaran juga dalam hubungan dengan latar belakang strata yang ada.

    Like

  9. Bongga Karadeng says:

    “Pelaksanaan Ritual Rambu solo’ di kalangan suku Toraja, memang sangat rumit jika dipandang secara pengertian umum dari luar,..dan memang hanya orang2 Toraja yg bisa memahami sendiri makna dan tujuan tertentu ritual tersebut dilaksanakan. Jika dipandang dari jumlah pengorbanan pd setiap rambu solo sesuai dgn jumlah kerbau dan tingkatan acaranya, sesungguhnya tdk mengubah tatanan adat,budaya, maupun tingkat sosial (kedudukan masing2/ tdk merubah kasta di dalam masyarakat). seperti jika memang keturunan kaunan lalu bisa memberikan pengorbanan potongan hewan yg banayk, kendati itu memadai pengorbana kasta tertinggi ataupun lebih, maka itu bukan berarti kasta kaunan sdh bersih atau hilang. namun hanya kebebasan utk diberikan melakukan hajat kepada leluhur mereka dgn pelaksanaan tertentu.”

    komentar pertama ini mungkin sudah mewakili untuk memberikan pemahaman kepada penulis, dan sedikit tambahan dari saya untuk penulis dapat mempelajari konsep moral. Saya sarankan untuk mempelajari konsep sosial moral teori Cialdini dan Trost, dimana mereka membahas mengenai sosial moral. Walaupun tulisan ini telah mengkaji tentang fenomena terkait Rambu Solo pada zaman sekarang, komentar ini juga menyarankan kepada penulis untuk memahami konsep kebutuhan menurut Malinowsi, dimana komentator melihat penulis perlu lebih memahami bahwa perubahan sosial-ekonomi yang menciptakan budaya baru ini tidak mempengaruhi pemaknaan terkait pelaksaan upacara kematian/Rambu Solo berdasarkan interpretasi dari Aluk Todolo yang menunjukkan ekistensi “Sang Toraya”.

    Like

    1. Terima Kasih untuk Masukannya.Next time jadi masukan untuk tulisan selanjutnya. kali ini, Saya hanya berusaha menulis dalam bahasa yang mudah di mengerti masyarakat yang saya padukan dengan opini saya dan batas kemampuan dan pengetahuan saya.

      Like

  10. Marini Rampao says:

    Kalau menurut saya sebagai orang toraja,adat dan tatanan yg sudah ada biarlah tetap dilestarikan.Yang membuat sedih kalau kita tidak mampu mantunu tp dipaksakan karena ego dan masirik lako tau.
    Lakukanlah sesuai kemampuan kantong kita karena efek kedepan yg kena adalah hutang yg tidak berkesudahan buat anak cucu kita.Kurre sumanga

    Like

  11. Novel says:

    Jgn terlalu nyinyir ahhh. Itu hak mereka. Setidaknya mereka turut andil melestarikan budaya adat Toraja, yg konon biaya pemakaman termahal di dunia.

    Soal strata, menurut saya tdk hrs jd polemik yg berusaha digembosin keluar. Kenapa saya bilang spt itu? Ini contoh kecil saja, kl nenek mereka moyang kaunan, apa itu berarti turunan selanjutnya kaunan? Tentu tidak kan??? Nah skrg cobalah org toraja merubah mindset soal strata2an ini. Gak jamannya lagi ngomongin hal spt itu. Silahkan berkaca pd kerajaan djogja. Jika seseorang menji abdi dalem istana, tdk berarti anak dan istrinya pun disebut abdi dalem istana.

    Terakhir…
    Org tdk dipandang dr stratanya maupun kekayaan, namun dr attitude, pola pikir dan kejujuran dlm berkarya.

    Like

  12. Simon says:

    Suatu kemunduran budaya krn memotong kerbau tanpa aturan lbh kearah keangkuhan diri .

    Like

  13. ABE' says:

    Yg ada dr dulu biarlah tetap dilestarikan dn buat OKB jg tdk perlu jor-joran potong tedong lebih dr 24 ekor malah skrg sdh cenderung jd ajang pamer harta, lestarikan sj budaya kita yg mmg sdh ada dr dulu, lbh baik uang yg lebih itu digunakan utk membantu keluarga yg krg mampu atau kl perlu jd donatur utk mereka yg kurang mampu di kampung (apa mau??)

    Yah gt dehh…Kurre sumanga’

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s