Cerpen “Berawal dari Segelas Kopi”

Berawal dari Segelas Kopi

Aku Adalah seorang Mahasiswi, Aku punya Kegemaran bercanda-ria dengan Pena dan Kertas. Kadang jika Ada Kompetisi Menulis, Aku suka ikut berpartisipasi Walaupun Harus kecewa berkali-kali karena Naskah yang selalu ditolak. Bagiku mengikuti kompetisi, Bukan Hanya sekedar ingin mengejar Juara,Tapi Bagi Aku Itu sebagai Tempat Aku menciptakan Dunia Lain Untuk Keseharianku. Soal Imajinasi, Soal Tantangan, Apalagi Soal Hati, Pikirku bisa Ditemukan Dari Pena dan Kertas.

“Aduh… Aku Lupa DeadlineNya Hari ini”

Aku baru ingat ternyata Pengumpulan naskah terakhir hari ini. Langsung Ku kemasi Barang-barangku yang masih berserakan di atas meja.

“Caca… Aku duluan Yah, Ada Pengumpulan Naskah hari ini Mau diselesaikan dulu Soalnya Belum Kelar”

“Oh iya Hati-hati” Kata Caca Teman kelas Aku di Kampus.

Aku langsung meninggalkan kampus dengan terburu-buru, Seperti Seorang Atlet Lari yang sedang berlomba Lari 100 Meter Atau Mungkin  Seperti Pencopet Cantik yang Ketahuan Aksinya. ada saja Perumpamaan tentang Hidup Layaknya Kisah diperjanjian Lama.

Kupercepat Langkahku Menuju Parkiran Motor. Ketika Berbelok Aku Menabrak seorang Lelaki Paruh Baya Yang Sibuk dengan Gadgetnya.

“Kamu Hati-Hati Kalau Jalan”, Kata Lelaki itu Agak Kesal.

“Maaf Kak, tadi Lagi terburu-buru”, Jawabku dengan Sopan Kepada Lelaki itu.

“Sebenarnya bukan hanya aku yang salah, Dia juga jalan sambil main gadget” Kataku sambil pergi meninggalkan Dia.

Aku langsung Meninggalkan Kampus dengan Sepeda Motorku. Aku mencari tempat yang Nyaman untuk aku menuangkan imajinasiku. Terlihat oleh sorot Mataku Sebuah Bangunan Kecil Yang unik di Tengah Gedung Pencakar Langit. Aku mencoba berbelok Hendak Melihat Bangunan itu, Dari kejauhan terbaca GANDRIAL COFFE CAFÉ. Ternyata itu Toko Kopi sekaligus Kafé untuk Para Penikmat Kopi. Design Arsitek Bangunannya yang unik Serta Keasrian Tempat itu Yang kayaknya cocok untuk Memancing Imajinasiku.

Langsung Ku parkir Si hitam di Depan Kafe itu, Kemudian dengan penasaran Aku masuk. Aku Langsung Menuju Sebuah Meja di sudut ruangan itu.Kafé itu Lumayan Ramai pengunjung, walaupun ramai Suasanya tetap tenang. Ku keluarkan Seluruh Perlengkapanku seperti Para Tentara mempersiapkan Peralatan untuk Pertempuran.

Dan Sesaat Kemudian, Datang Seorang Lelaki Pelayan Kopi di Kafe itu, dengan ramah dia menyapa “Selamat Siang Mbak, Mau pesan apa?”, Seraya Menyodorkan Daftar Minuman di Kafé itu.

“Cappucino Saja, Jangan terlalu manis yah Kak”

“Siap Mbak, Ini Password Wifi-nya ”, Sahut Pelayan sambil menyodorkan secarcik Kertas.

Aku kemudian kembali fokus Pada Naskah yang kutulis tempo hari. Saat mulai merangkai 2-3 Kalimat. Tiba-tiba Jari jemariku berhenti, Pusing mau menulis Apa lagi. Ada rasa Malas Untuk melanjutkan Cerita ini padahal Deadlinenya Hari ini.

Tiba-tiba Datang Pelang Kafe, Mengantarkan Cappucino yang Ku pesan Tadi.

“Ini Pesanannya Mbak”, Kata Pelayan.

“Makasih Kak”, Balasku.

Kopi itu dia letakkan di samping Laptopku, Fokusku tidak Pada Kopi itu, Tapi Pada Tulisan yang ada di Depanku.  Aku pusing Mau melanjutkan Apa lagi.

Tiba-Tiba Seseorang Datang di depanku Menyapa.

“Aku boleh Duduk disini Mbak? Soalnya Meja yang Lain sudah Penuh”

“Silahkan Kak”, Kata ku dengan Ramah.

Lelaki itu kemudian Memesan Menu yang Sama dengan Yang Ku pesan tadi. Selang 5 Menit Pesanannya sudah datang. Aku kira dia Hanya ingin Menikmati Kopi ternyata ku Lihat dia mengeluarkan peralatan seperti yang ku Punya.

“Lagi kerja Tugas ya Mbak”, Kata Lelaki itu

“Iya kak, ini lagi menyelesaikan Naskah, Pusing Mau nulis apa lagi” Jawabku.

“Ternyata Penulis ya”, Tebak Lelaki itu.

“Saya hanya suka Merangkai-rangkai Kata, Tapi bukan Penulis. Kalau Berbicara Penulis terdengar terlalu PROFESIONAL, belum cocok untuk saya” kataku Memperjelas.

“Kalau Kamu pusing dengan Lanjutannya, di SAVE saja dulu, Besok-besok Kalau kamu lagi mood dengan Tulisan itu, buka lalu lanjutkan. Kayaknya kamu Butuh Judul yang baru” Jelas dia.

Dia memberi Arahan dengan Jelas, Tampaknya dia sudah Profesional dalam menulis, atau mungkin dia seorang sastrawan? Pikirku dalam Hati. Sambil membuka halaman baru untuk aku menulis judul yang baru.

“Kita belum kenalan, Nama aku Bends Hendariatmo Panggil saja Bends, Kalau kamu?”, sambil meyodorkan tangannya untuk bersalaman.

“Namaku Kinawa Gaitsa teman-teman biasa memanggiku Kinawa”, Kataku sambil bersalaman.

Setelah berkenalan Dia banyak bercerita soal Dirinya. Ternyata dia Juga punya hobbi yang sama dengan aku yaitu menulis. Aku membutuhkan orang-orang seperti dia untuk aku belajar lebih banyak lagi. Makanya dengan agak malu aku meminta kontaknya. Dia juga ngak keberatan, Malah aku di ajak ikut kelas menulis di Tempat iya biasa mengajar.

“Kamu pasti bisa Jika ada kemauan. Dulu ketika saya mulai menulis, begitu sulit buat saya untuk menyelesaikan. Makanya saya kadang mencari tempat yang tepat untuk membangun imajinasi saya, kafe seperti ini misalnya yang tenang suasananya. Habis itu Saya mencari judul yang menarik. Agar daya tarik untuk menulis tetap ada. Dari judul kamu bisa kembangkan. Kamu juga bisa mencari ide dari apa yang ada di sekeliling kamu, Misalnya Cappucino yang ada di depan kamu ini”, Kata dia Menjelaskan

“Ide apa coba Kak”, Tanyaku pada dia.

“Coba Kamu perhatikan kopi ini, Ada gambar bintang di atasnya mereka menamai ini LATTE ART. Kamu bisa mencari judul untuk ini”, Kembali dia menjelaskan.

“Bintang Dalam Segelas Kopi” Kataku mengusulkan.

“Itu Judul yang Bagus, Otaknya udah ke buka, ternyata Butuh di Pancing-pancing biar jalan”, Kata dia Meledek sambil tertawa

Aku pun tertawa mendengar ucapankan kakak itu.

“Coba kamu kembangkan Bintang itu jadi cerita yang Menarik, Mudah bukan? Padukan antara Imajinasi dengan Perasaaan Hasilnya Pasti Luar Biasa. Kalau Kamu rajin Melatihnya Kelak Kamu akan jadi Penulis Yang Hebat, Ini kakak ada buku buatkamu, Mudah-mudahan bisa membantu”Seraya menyodorkan Buku itu.

“Makasih Kak”, kataku

“Saya duluan ya, Kamu silahkan lanjutkan berjuang untuk Naskahnya, Sampai Ketemu di Lain kesempatan”.

Aku bersyukur hari ini bisa bertemu orang yang hebat seperti kak Bends. Aku melanjutkan Tulisanku itu yang berawal dari secangkir kopi dan akhirnya aku bisa menyelesaikan 5 Halaman dengan Ending Yang  bahagia. Aku Mengirim naskah itu Lewat Email dan pengumumannya 1 minggu sesudah pengiriman.

Sehabis itu aku pulang. Dirumah aku membaca Buku yang Kak Bends kasih tadi, ternyata Di buku itu Tertulis Nama kak Bends sebagai Pengarang. “Wow Hebat Kak Bends”, Kataku dalam Hati. Tulisan-Tulisannya Menginspirasi Perjalanan karirnya Hingga Bisa jadi Penulis seperti sekarang. Naskah yang di tolak berkali-kali bukan alasan untuk dia berhenti belajar menjadi penulis. Tapi itu dia jadikan motivasi untuk jadi penulis yang hebat.

Tak terasa Pengumuman Hasil Naskah kemarin Keluar. Tulisanku lolos sebagai kontributor. Aku sangat Senang, Langsung Ku Hubungi Kak Bends Untuk berterima Kasih. Berawal Dari Segelas Kopi aku menulis dan hasil dari Tulisanku adalah Bintang yang kelak bisa menerangi malam yang gelap. Sejak saat itu saya suka menulis sambil berdoa pada Tuhan Kelak Tulisan saya ini bisa jadi berkat buat orang lain. Bukan soal Mengejar berapa Banyak Keuntungan dan Materi yang saya dapat dari Tulisan Saya. Tapi Berapa banyak Orang yang bisa berubah dari apa yang Saya Tulis.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s