Kumpulan Puisi Eunike

Saya kemudian mengambil kertas lalu menulis semua beban hidup yang saya alami. Saya keluarkan semua isi hati saya pada kertas itu sambil saya menangis. Anda tahu, Khasiatnya Luar biasa. Beban itu terasa ringan, Walaupun kertas tidak bisa berbicara Kepada saya Setidaknya dia bisa Jadi Sandaran untuk beban yang Kualami. Kertas dan Pena bagi saya adalah Alat yang Tuhan gunakan untuk aku bercerita Pada Dia. Bukan hanya ketika saya menderita saya menulis. Tapi disaat saya senang bahkan saat marah pun Saya Tulis. Jika Hati Panas, Iya akan melontarkan perkataan-perkataan yang akan membuat anda berdosa belum lagi orang yang ada di sekitar anda tersakiti oleh ucapan anda. Lebih baiknya jika anda Marah. Tulis unek-unek anda pada kertas. Menulis adalah Cara Tuhan mengajarkan anda untuk bersabar. Sejak saat itu saya suka menulis sambil berdoa pada Tuhan Kelak Tulisan saya ini bisa jadi berkat buat orang lain. Bukan soal Mengejar berapa Banyak Keuntungan dan Materi yang di dapat dari Tulisan Saya. Tapi kejar Berapa banyak Orang yang Anda Ubah dari apa yang Anda Tulis.

Saya Bukan Penulis Hanya saja saya memiliki Tangan yang tidak pernah berhenti memberi saya inspirasi. Dan Puji Tuhan, Tulisan saya Bisa menghasilkan Sebuah Penghargaan sebagai Motivator buat saya untuk terus berkarya. Semoga nantinya bisa memenuhi Blog saya.. Amin 🙂

  1. Puisi Pelangi Dititik Nol

PELANGI DI TITIK NOL

Tetes Air berhenti Sejenak
Tuaian Senyum Melihat Harapan
Mulut Menganga Untuk Teriak
Memberontak dari Rintihan

Sajak-sajak tertulis Dilangit
Muncul warna untuk rasa
Rasa untuk Sakit
Seakan menanti untuk asa

Ingatkah Hujan Saat itu?
Itu jadi saksi untuk Janji
Ketika angin Nan membawamu pergi
Katamu akan menjemput Pelangi?

Waktu bukan Jurang Mati
Jarak Bukan Api pembakar
Uang bukan Serbuan Pemburu
Tapi Maksud itu Hati dan Cinta

Pelangi dulu Ada untuk Menyayangi Awan
Kini Pelangi sudah rata karena rasa
Sampai dia berada di Titik Nol
Kosong karena Sakit

2. Puisi Sajak Kunang-Kunang Malang (Nasional)

SAJAK KUNANG-KUNANG MALANG
Cahaya mungil pancarkan sinar
Terbang dengan Tanya
Tak tahu arah hidup
Tak tahu sampai kapan
Akan berkelana dalam gelap
Cahayanya mulai redup
Seiring terlahirnya siksa dan derita
Bekas luka tertanam abadi
Dalam lewati jalur hidup ini
Teriakan-teriakan …
Serta jeritan-jeritan …
Bergemuru dengan nyaring
Tetesan air mata pun jatuh
Tanda kecewa, tanda putus asa
Saat  ia mulai bangkit cambuk pun berkata:
Kau bukan untuk hidup…
Kau bukan untuk bahagia…
Kau hanya bisa terlahir dalam takdir yang malang
Aku ingin terbang
Menghiasi malam ini
Tapi kau datang padamkan duniaku
Aku ingin bebas…
Bebas mengarungi malam ini
Kadang aku bertanya: inikah hidup?
Air mata pun harus jadi bukti
Bahwa aku juga ingin hidup

SERTIFIKAT JUARA
Lolos Kontributor dalam Lomba Puisi Tingkat Nasional #VENDHAinHARMONI yang di selenggarakan VENDHA MEDIA Surabaya
3. Puisi Harmoni Kehidupan (NASIONAL)

HARMONI KEHIDUPAN
Butir pasir-ku terbawa
Oleh air dalam hamburan kehidupan ini
Suatu Tanya terlontar dari mulut mungil ini
Apakah ini hidup?
Bahkan lingkaran tangis pun
Tak cukup untuk menitihnya

Kepolosan pun seakan jadi hambatan
Jurang kematian menganga di gerbang kehidupan
Langkah kaki beranjak tak pasti
Pusat pikiran melayang tinggi
Alunan kata keluar
Membawa sebuah harapan

Tak terjawab…
Sulit ditebak…

Itulah harmoni kehidupan
Penuh dengan Tanya
Dan terselubung oleh misteri

Jika mulut tak sanggup menjawabnya
Hati pun berbicara
Untuk menjawab lika-liku kehidupan
Dalam lingkaran harmoninya.

SERTIFIKAT JUARA
Lolos Kontributor dalam Lomba Puisi Tingkat Nasional #VENDHAinHARMONY yang diselenggarakan VENDHA MEDIA Surabaya bersama dengan Puisi Sajak Kunang-Kunang Malang.
4. Puisi Kasih Tanpa Akhir (NASIONAL)

Kasih Tanpa Akhir
Ditepi Sungai Aku duduk bersajak Pada arus Yang mengalir
Kuceritakan Kekosongan Ruang Yang Kualami
Dia diam Tanpa Memandang Lalu kembali berjalan.
Tanpa ada Hirau untuk bunga yang Layu

Aku Pulang hendak bersajak pada Sosok Ayah di Pelataranku
Kali pertama ku lihat wajah gelisah seperti Kehilangan Mahkota
Dia berbalik berlari ke arahku. Seperti Angin Yang Kehilangan Arah
Dipeluknya erat aku Seperti Ayah Yang menemukan Anaknya yang Hilang

Sosok itu Bersuara jawaban dari gelisah dihari ini
Tidak untuk ke dua kalinya Kehilangan orang yang ayah cintai Katanya.

Ayah adalah Ibu dari Adikku dan Ibu untuk diriku
Jika Matahari bisa berkata Pada hujan n’tuk Berhenti
Aku pun Minta Pada Sang Pencipta Panjangkan Hidup Ayahku
Agar Masih ada waktu Memberi Buah dari Apa yang Ayah Tanam.

SERTIFIKAT SSAN
Lolos Kontributor dalam Event Penerbitan Antologi Sajak untuk Ayah Tercinta oleh TimSSAN & Penerbit Rumah Kita
5.Puisi Aku Tetap Kuat

Aku Tetap Kuat
Penulis: Eunike Pakiding

Air membawa Hanyut Jutaan mimpi
Lautan menenggelamkan ratusan Harap
Apa bisa aku berenang mengejar?
Apa bisa aku menyelam lebih dalam?

Saat Kerjaku Rusak karena Mulut yang berombak
Saat Semua Mati sia-sia setelah di siram air
Anda tahu? Ratusan hari aku usahakan iya Tumbuh di tepian
Dan kau datang menginjak dengan Perkataanmu.

Dimana hatimu angin?
Kau terbangkan impianku saat mentari terbit
Dan di saat aku kembali membangun pondasi Rumahku
Kembali lagi tiupanmu itu merusak tumpukan batu yang telah aku kumpul

Aku pribadi kuat Hujan
Sembilan kali aku kau Jatuhkan
aku akan bangkit Sembilan puluh Sembilan kali untuk kamu
Bahkan jika kuatku membara Hujanmu akan ku hentikan
Kuganti dengan Matahari sampai Senja mendapati aku tetap kuat.

Makassar, 09 Agustus 2016

6. Puisi Nyanyian untuk Hutan (NASIONAL)

Nyanyian Untuk Hutan
Polos Muka  Berekspresi
Bilamana dulu
Mata memandang hijau

Menghirup Udara segar
Terdengar kicauan riang dari sahabat kecil
Siula-siulan angin Nan Merdu
Mengajak  untuk Bernyanyi

Seketika Tanganku terbuka
Bebanku Lari daripadaku
Layakkan aku terbang
N’tuk Lihat lebih Luas lagi

Kusebut Mereka Hutan
Alam yang kunikmati dengan gratis
Pelarian saat hati tidak sanggup lagi menahan
Saat tidak ada lagi ruang untuk bercerita.

Berharap kelak
Tuhan Beri umur Yang panjang
Agar aku bisa menikmati yang seperti ini
Serta tanganku yang akan selalu ringan untuk menjaga

13726566_831369080332227_7855442237663369729_n
Lolos Kontributor dalam Event Penerbitan Antologi Puisi Penyair Nusantara yang diselenggarakan Oleh Tuas Media.
 7. Puisi Syair Syukur Untuk Pahlawan

Syair Syukur untuk Pahlawan
Penulis: Eunike Pakiding

Kupandangi Negeri ini dari Ketinggian
Sontak saja Haru Menyambar Daku
Hamparan Tanah Hijau nan Asri
Tempat Kakiku berpijak Menyambut mentari

Ibunda bercerita..
Nak, Dulu Pahlawan bermain dengan Tombak
Tetesan darah Jadi Air, Nyawa jadi Taruhan
Rintihan Jerit jadi Lambang Sakit demi Satu perjuangan
Keluarga di Tinggal dalam Bahaya
Sehat tak dipedulikan lagi
Harta dibiarkannya Tenggelam dalam Senja
Satu Tujuan Yaitu Berjuang

Jika Roda waktu berputar dengan cepat
Mohon untuk negeri ini tetap beri bijak
Beri pemimpin yang berakhlak Mulia
Jauhkan dari provokator
Jauhkan dari tikus-tikus yang mengorek uang Negara
Jauhkan dari Pemimpin yang berkantung ganda

Jika Lantunan doa dalam Syair Harapku Terkabul
Aku minta Tuhan
Tetes darahku nanti mengering di Tanah Air ini
Cerita Harum jadi Jejakku di Alam Indonesia

Terima Kasih PerjuanganMu Pahlawan
Sekarang Kemerdekaan itu Ku genggam
Aku bagai Rajawali di Langit Biru
Bisa terbang tinggi dengan Bebas
Kepakan sayapku Gagah Karena Indonesia
(Makassar. 15 Agustus 2016)

14222259_1523715654321229_3868457386029856607_n

Lolos Kontributor dalam Event Menulis “Perjuangan untuk Merdeka kah?” yang di selenggarakan oleh SAWEU PENA PUBLISHER.

8. Puisi Nostalgia Dalam Jeritan Manusia (NASIONAL)

NOSTALGIA DALAM JERITAN MANUSIA

Aku berdiri dalam heningnya Malam
Mulutku berteriak Memanggil Dikau Tuhan.
Kakiku yang berpijak tidak mampu lagi Menahan
Beban yang Ku pikul Terlalu berat Tuhan

Kala Mulut ini Jerah,  nadiku pun ingin ikut bernada
Denyutan demi denyutan memaksa untuk lepas dari bisu yang mengikat
Seakan turut berteriak menggantikan Mulut n’tuk mencari Sang Pencipta
Aku haus, Aku sakit, Beri Aku minum, Aku ingin Dikau Tuhan

Sontak kakiku bertekuk lutut diatas tanah
Material darimana aku di ambil dan dibentuk sang pencipta.
Ternyata Tuhan mendengar Jeritanku
Penciptaku ingin Aku bersyukur atas Hidup yang Kumiliki Sekarang

Tuhan Cobai Hidupku diatas kerikil Tajam
Agar aku diproses Kelak jadi Pribadi yang Hebat.
(Makassar, 20 Juli 2016)

Lolos Kontibutor dalam Lomba Menulis Tingkat Nasional yang diselenggarkan SANTRI KELANA dan DREAMEDIA PUBLISHER

9. Puisi Perjuangan Yang Memerdekakan (NASIONAL)

PERJUANGAN  YANG MEMERDEKAKAN
PENULIS: EUNIKE PAKIDING

Ketika Rembulan Menangis  Mencari Pita Merahnya
Kemana engkau Wahai penenun Kain?
Apa Kopompong berhenti memberi Kapas?
Atau Flora berhenti menangis karena Kau Serati?

Layaknya Cerita Kisah Perjanjian Lama
Pijakan kaki berdiri menginjak mentari siang
Kegelapan mengikat, menindas, Menyakiti Malam
Jika demikian, Kepada siapa Hujan akan meminta tolong?

Kemudian ditemuinya Bambu Runcing bercahaya di Desa
Diambilnya dengan Sayatan Tajam Lalu berlari Menjumpai Lawan
Berteriak Berani Lalu memberontak Kolonial
Persatuan dan Kesatuan di genggam seperti Pasir Lautan Merah

Sampai Saatnya Kudapati darah berhenti Mengalir
Digantikan dengan Kibaran Merah Putih, Lalu dibacanya Naskah Proklamasi
Hingga Dunia Mendapati Rakyat Indonesiaku Menangis Bahagia
Lalu Berseru “MERDEKA, MERDEKA TANAH AIR-KU”
(Makassar, 16 Agustus 2016)

 Lolos Kontributor Event HUT-71 RI dalam Rangka Penerbitan Antologi Sekaligus MP3 Musikalisasi Puisi Kemerdekaan yang diselenggarakan Poetry Publisher, Tim SSAN/Sajak-Sajak Anak Negeri, Penerbit Rumah Kita, True Indonesie Rhyme Legion, Percetakan Jaya Abadi, 765 Studia Records, Banjarsari Indie Movement, Komunitas Sastra Bekasi (KSB) dan Extreme Zone Literacy.

10. Tunggu Karya Berikutnya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s